Category Archives: Manhaj

Mengapa Umat Islam selalu Ditindas?

Oleh: Asy Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani

Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan tidak ada yang bisa menunjukinya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran: 102) Read the rest of this entry

Advertisements

Bahaya yang Dihadapi Kaum Muslimin

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:
Beragam bahaya menyerang umat Islam dari berbagai sisi. Apakah bahaya yang terbesar bagi umat? Dan bagaimana jalan menolak bahaya tersebut?

Jawab:
Bahaya terbesar yang dihadapi oleh kaum muslimin adalah jauhnya mereka dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan menggantinya dengan undang-undang buatan manusia serta beragam isme yang menyimpang. Read the rest of this entry

Hakikat Dakwah Salafiyah

Oleh: Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Pertanyaan:

Berkembangnya dakwah Salafiyah di kalangan masyarakat, dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri, sehingga bisa menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya!

Jawaban:

Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka. Read the rest of this entry

Mempelajari Prinsip Dasar Ahlussunnah

Oleh: Ustadz Abu Muawiyah Al Atsary

Ketahuilah -semoga Alläh senantiasa memberimu taufiq untuk taat kepada-Nya- bahwa sungguh saya tidak memaksudkan dengan prinsip-prinsip dasar hanya sekedar tiga jenis tauhid saja, akan tetapi saya memaksudkannya (ketiga jenis tauhid tersebut) sebagai yang pertama. Dan saya maksudkan yang kedua selain dari tiga jenis tauhid tersebut adalah prinsip-prinsip dasar yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamä’ah dan dengannyalah mereka menyelisihi ahlul bid’ah wal furqah (pengekor bid’ah dan perpecahan).
Seperti dalam masalah Al-walä` wal Barä` (loyalitas dan berlepas diri), amar ma’rüf nahi mungkar, sikap terhadap para shahabat, penghormatan dan pembelaan terhadap mereka, dan sikap terhadap pemerintah, sikap terhadap pelaku maksiat dan dosa besar, sikap terhadap Ahlul Bid’ah, mengeritik/mencela mereka dan bagaimana ber-interaksi dengan mereka, dan lain-lainnya dari prinsip-prinsip dasar yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamä’ah dan mereka memasukkannya sebagai bagian dari buku-buku Aqidah mereka, sebagai upaya untuk menampakkan al-haq dan berlepasnya diri mereka dari para pengikut penyimpangan, fitnah, hawa nafsu dan perpecahan walaupun asalnya hanyalah perkara amaliyah (tindakan/ perbuatan) bukan Aqidah (keyakinan).
Apabila kamu telah mengusai masalah-masalah dan prinsip-prinsip dasar ini, maka -dengan idzin Alläh- engkau akan terbentengi dalam melawan berbagai syubhat yang menerjang dunia islam dari arah kanan maupun kirinya.
Tatkala banyak dari kalangan orang-orang yang bertaubat melalaikan hal ini, dan diawal taubat mereka tidak antusias untuk mempelajari prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamä’ah dan manhaj mereka, maka merekapun menjadi goncang dan goyah bahkan oleh syubhat yang paling ringan sekalipun. Hanya kepada Alläh kita memohon keselamatan dan afiyat.
Dan siapa yang mencermati keadaan mereka, maka ia akan mendapatkan beberapa gambaran dan banyak contoh yang menunjukkan kegoncangan ini.

Read the rest of this entry

Mengenal Ahlussunnah wa Al-Jamaah

Oleh: Ustadz Abu Muawiyah Al Atsary

Sebelum terjadinya fitnah dengan munculnya berbagai macam bid’ah, perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat islam tidak dikenal kecuali dengan satu nama yaitu Islam. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah dan perpecahan, muncullah golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan memprogandakan bid’ah dan kesesatannya dengan nama Islam. Hal ini tentunya menimbulkan kebingungan di tengah-tengah ummat, manakah ajaran Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang sebenarnya, yang belum bercampur dengan berbagai bentuk kesesatan, karena semua kelompok dengan beraneka ragam ajaran mereka yang berbeda, semuanya mengaku bahwa merekalah yang berada di atas ajaran Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang murni.
Hanya saja Allah Yang Maha Hikmah lagi Bijaksana telah menetapkan suatu keputusan dengan dalam firmannya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr : 9)

Read the rest of this entry

Jangan Memasuki Perkara yg Tidak Bermanfaat

Oleh: Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Orang yang belajar pendidikan agama kadang ia masuk ke dalam perkara yang tidak ada manfaatnya tanpa ia sadari. Dan lebih parah lagi apabila ia masuk ke dalam sebuah perkara yang merupakan makar dari syaithan. Dan di masa ini banyak sekali terjadi di antara para penuntut ilmu, dan ini diingatkan oleh para ulama kita di masa ini.

Makna-makna ini kita dengarkan dari Syaikhuna Muqbil rahimahullâh, Syaikhuna Shalih Al Fauzan hafizhahullâh, Syaikhuna Mufti Saudi Arabia sekarang ini, ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullâh, Syaikhuna Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullâh, Syaikhuna Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhahullâh, Syaikhuna Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullâh; Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullâh, dan banyak lagi dari para ulama kita di masa ini. Semuanya memperingatkan, agar penuntut ilmu di mana pun ia berada berhati-hati dari makar syaithan yang ingin membuat perpecahan di tengah para penuntut ilmu. Dan banyak mereka mengingatkan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa alihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhu, Read the rest of this entry

Belajar Kepada Selain Manhaj Salaf

Janganlah Kamu Mengambil Ilmu
Kecuali Dari Orang Yang Telah Diketahui
Keteguhannya Di Atas Sunnah

Berkata Al-Imam Muhammad bin Sirin, “Sesungguhnya ilmu mi adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Beliau juga berkata :
“Dahulu mereka tidak menanyakan tentang sanad, maka tatkala fitnah telah terjadi, mereka pun berkata: ‘Sebutkanlah rawi-rawi kalian kepada kami, maka diperiksalah, bila berasal dari kalangan ahlus sunnah maka diambil haditsnya dan bila berasal dari ahlul bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” (Kedua atsar di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya).

Tatkala sebagian dari orang yang bertaubat (kepada jalan salaf) lalai untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar dan ketentuan-ketentuan tersebut, akhirnya merekapun menjadi lahan/ santapan syubhat¬syubhat dan menjadi tempat permainan kebanyakan orang yang mengaku berilmu dan bermanhaj salaf.
Maka tidaklah datang seorang yang mengaku berilmu atau menampakkan punya hubungan dengan ulama besar Ahlus Sunnah, kecuali engkau akan menemukan para pemuda yang bertaubat akan berkumpul disekelilingnya tanpa meneliti hakikat orang itu dan tanpa memeriksa riwayat hidupnya. Dan jika orang tersebut melihat bahwa pengikut-pengikutny a semakin banyak, dan para pencintanya semakin tergila-gila padanya, maka mulailah dia menampakkan apa yang selama ini disembunyikannya dan menjadi tujuannya. Kemudian engkau akan melihatnya meneriakkan imarah dalam dakwah atau mendirikan kemah tajammu’iyyah dan selainnya dari hal-hal yang menyelisihi prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamä’ah.
Ketika itulah orang-orang yang ingin bertaubat kembali pada manhaj salaf mulai guncang, dan terbagilah mereka menjadi dua atau tiga bagian; Ada yang mendukung, yang menentang, dan ada yang menyimpang.
Dan kegoncangan ini hanyalah terjadi karena dua perkara :
Pertama:
Bahwa orang-orang yang bertaubat tidak menekuni ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu tentang prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Hal tersebut karena ilmu adalah pelindung dari berbagai ketergeliciran.

Read the rest of this entry

Saudaraku, Koreksilah Pergaulanmu

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Sebagai jalan hidup dan agama yang mengemban misi rahmatan lil ‘alamin, Islam tentu mengatur kaidah bermuamalah atau bergaul bagi pemeluknya. Baik itu terhadap sesama muslim maupun pemeluk agama lain. Tidak mengentengkan yakni tidak tenggelam dalam budaya toleransi yang menjebak, namun juga tidak berlebihan semisal melakukan tindak anarkis.

Tentu bukan hal aneh lagi jika kita menjumpai bermacam-macam warna dan perilaku dalam kehidupan masyarakat kita. Ini terjadi dengan sebab yang beragam. Terkadang dilatarbelakangi lingkungan, masyarakat, pergaulan, teman-teman, dan sebagainya. Semuanya ini menuntut agar kita bisa memosisikan syariat sebagai landasan pergaulan sehingga bisa merangkul semua perbedaan tersebut dengan cara menyingkirkan sesuatu yang tidak ada syariatnya dan mengokohkan yang ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ironinya, perbedaan itu selama ini justru dijadikan sebuah kebanggaan sebagai bentuk keangkuhan dan kesombongan. Bahkan ada yang sudah dijadikan sebagai ajaran yang harus dianut oleh setiap orang. Akhirnya setiap seruan yang mengajak kepada adab dan akhlak Islami menjadi sebuah seruan yang tidak berarti. Atau jika ada orang yang mempraktikkan adab bergaul yang Islami justru dicibir, dianggap aneh dan asing, bahkan dilekati tuduhan yang bukan-bukan. Atau divonis sebagai orang yang melakukan pengrusakan dan kehancuran sebagaimana igauan Fir’aun menanggapi akhlak dan perilaku serta dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِي أَقْتُلْ مُوْسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِيْنَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي اْلأَرْضِ الْفَسَادَ

“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): ‘Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi’.” (Ghafir: 26)
Read the rest of this entry

Mengapa Harus Bermanhaj Salaf?

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Read the rest of this entry

Apa itu Salafi dan siapa tokoh-tokohnya?

Salafiy adalah nisbah kepada salaf.
Salaf sendiri artinya adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut mereka (tabi’in) dengan baik dari penghuni tiga kurun yang dimuliakan dan yang setelah mereka, inilah yang disebut dengan salafiy. Bernisbah kepadanya artinya bernisbah kepada apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kepada jalan ahlul hadits.
Dan ahlil hadits adalah para pengikut manhaj salafiy yang berjalan di atasnya.

Read the rest of this entry