Kelezatan Ibadah


Oleh: Asy Syaikh Amin Asy Syaqaawiy

الحمد لله رب العالمين، والصلاة السلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد

Sesungguhnya diantara karunia Allah Ta`ala kepada hamba-hambaNya ialah nikmat kelezatan dalam beribadah. Yang dimaksudkan dengan kelezatan dalam beribadah yaitu suatu bentuk ketenangan jiwa dan kebahagian hati yang didapatkan oleh seorang muslim, kemudian lapangnya dada ketika menunaikan satu ibadah dari ibadah-ibadah yang ada. Dan kelezatan dalam beribadah ini berbeda-beda antara seseorang dengan yang lainnya sesuai dengan kuat dan lemahnya keimanan seseorang.

Allah Ta`ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl : 97)

Dan sepantasnya bagi seorang muslim berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kelezatan ibadah, maka Nabi Shollallahu `alaihi  wa Sallam berkata kepada Bilal bin Rabah radhiallahu `anhu : “قم فإرحنا بالصلاة

“Bangkitlah wahai Bilal! Tenangkanlah kami dengan sholat”. Tatkala beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam mendapatkan kelezatan dan kebahagian hati dalam sholat tersebut, dan lamanya beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam ketika sholat malam. Hal ini sebagai dalil atas apa yang ditemukan oleh beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam di dalam sholat dari bentuk ketenangan dan kegembiraan ketika berbisik-bisik dengan Rabbnya Shollallahu `alaihi wa Sallam, dan hal ini dibenarkan dalam Kitabullahi. Allah Ta`ala berfirman :

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.(QS. Al Baqarah :45)

Mu`adz bin Jabal radhiallahu `anhu menangis menjelang kematiannya, maka hal ini ditanyakan kepadanya, dan beliau menjawab : “Bahwasanya saya menangis atas kehausan di siang bolong yang panas, shalat malam di musim dingin serta berdesak-desakkannya para penuntut ilmu di halaqah ilmu para ulama”.

Dan berkata Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta`ala :

“Sesungguhnya di dunia ada satu taman (surga), barangsiapa yang tidak memasukinya, dia tidak akan masuk surga yang di akhirat”.[1]

Berkata salah seorang ulama salaf :

“Para penduduk dunia yang miskin, mereka keluar dari dunia sementara mereka tidak mencicipi hal-hal yang paling enak di dunia tersebut. Dan dikatakan : “Apa yang paling enak di dunia itu ?” Dia menjawab : “Mencintai Allah Ta`ala, mengenalNya serta mengingatNya atau semisal ini”.[2]

Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa ketaatan adalah satu kenikmatan yang akan didapatkan oleh seorang muslim. Dari Anas bin Malik radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga amalan yang di dalamnya terdapat kelezatan iman : Hendaklah Allah Ta`ala dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam lebih dia cintai dari selain keduanya, hendaklah dia mencintai seseorang, tidak dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia merasa benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke neraka”.[3]

Dalam riwayat lain :

“من كان أن يلقى في النار أحب إليه من أن يرجع يهوديا أو نصرنيا”

“Seseorang dilemparkan dia ke neraka lebih dia cintai daripada dia kembali menjadi Yahudi atau Nashrani”.[4]

Diantara sebab-sebab yang akan menghasilkan kelezatan dalam beribadah adalah :

Pertama : Memaksa jiwa untuk mentaati Allah Ta`ala sampai jiwa itu tunduk dan terbiasa. Kadang-kadang diawal-awalnya jiwa tersebut akan memberontak, akan tetapi apabila dia bersungguh-sungguh semaksimal mungkin, dan disisinya ada keinginan dan cita-cita yang kuat, pasti dia akan menghasilkannya dengan izin Allah Ta`ala. Perkara ini menuntut kesabaran dan betul-betul kuat dalam kesabaran, Allah Ta`ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali `Imraan : 200)

Dan Allah Ta`ala berfirman :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS. Thohaa : 132)

Dan Allah Ta`ala berfirman :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku, dirikanlah shalat dan perintakanlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman : 17)

Dari Fadholah ibnu `Ubaidillah bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ

“Yang dikatakan mujaahid adalah seseorang yang memerangi jiwanya untuk taat kepada Allah”.[5]

Berkata salah seorang ulama salaf :

“Senantiasa saya menggiring jiwa saya kepada Allah, sementara jiwa itu menangis, namun demikian tetap saya giring sampai dia tertawa”.

Dan berkata Al-Imam Ibu Rajab rahimahullahu Ta`ala :

“Ketahuilah bahwa jiwa engkau kedudukannya sama dengan binatang tunggangan engkau, kalau seandainya dia mengetahui dari engkau kesungguhan, dia juga akan bersungguh-sungguh, kalau dia mengetahui dari engkau kemalasan dia akan tamak pada dirimu serta menuntut darimu bagian-bagiannya dan syahwatnya”.[6]

Berkata salah seorang penyair :

لأستسهلن الصعب أو أدرك المنى     فما انقادت الآمال إلا لصابر

“Saya betul-betul akan memudahkan kesusahan atau mendapatkan cita-cita,

Maka cita-cita tidak akan tunduk kecuali bagi orang yang sabar”.

Kedua : Menjauhi dosa-dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya maksiat merupakan hijab yang akan menghalangi rasa lezat dalam beribadah, selanjutnya akan mewariskan rasa keras, kasar dan kaku dalam hati. Berkata sebagian ulama salaf : “Tidaklah Allah Ta`ala menimpakan satu `iqab (adzab) kepada seorang hamba lebih besar dari bentuk kasarnya hati”.

Berkata al Imam Ibnul Qaiyim rahimahullahu Ta`ala : “Dan setiap kali dosa bertambah banyak, bertambah bersangatan rasa gelisah, dan kehidupan paling pahit adalah kehidupan orang-orang yang dirundung kegelisahan dan ketakutan. Sedangkan kehidupan yang paling baik ialah kehidupan yang jauh dari kegelisahan. Kalau seandainya seorang berakal melihat dan menimbang lezatnya maksiat, serta akibatnya berupa bentuk rasa takut dan gelisah, sungguh dia akan mengetahui sangat jeleknya keadaan serta besarnya kekurangan dia. Sekira-kira dimana dia telah mengorbankan ketaatan tenang, rasa aman dan manisnya ketaatan tersebut dengan satu bentuk maksiat yang menggelisahkan, serta apa-apa yang akan mengakibatkan pada dirinya bentuk rasa takut dan mudharat yang menyeru dia”.[7]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta`ala : “Apabila kamu tidak mendapatkan kenikmatan pada satu amalan di dalam hati kamu dan kelapangan di dada kamu, maka tuduklah, sesungguhnya Rabb Ta`ala Syakuurun, yakni bahwa Dia pasti akan memberikan ganjaran bagi seseorang yang beramal atas amalannya di dunia, dengan bentuk kenikmatan yang dia rasakan di hatinya, serta kekuatan dan dada yang lapang disertai dengan mata yang sejuk, sekira-kira kalau dia tidak mendapatkan demikian berarti amalannya disertai dengan riya`”.[8]

Berkata Sufyan at Tsauriy rahimahullahu :

“Terhalang saya dari melaksanakan sholat malam disebabkan satu dosa yang saya lakukan”.[9]

Dan ditanya Wuheib bin al Wird : “Kapan seorang hamba kehilangan lezatnya ibadah? Apabila dia terjatuh dalam satu maksiat, atau bila dia kosong darinya? Beliau menjawab : “Dia akan kehilangan lezatnya ibadah bila dia berkeinginan dengan satu maksiat”.

Ketiga : Meninggalkan makanan dan minuman, berbicara dan memandang yang berlebih-lebihan. Maka cukuplah bagi seorang muslim untuk membatasi makanannya sekedar bisa menolong dia dalam menunaikan ibadah dan amalannya, dan jangan dia berlebih-lebihan dalam makanan. Allah Ta’ala berfirman :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A`raaf : 31)

Dari al Miqdaam bin Ma`diy Karib radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidak ada yang lebih jelek satu bejana dipenuhi oleh anak cucu Adam selain dari perut, cukuplah bagi anak cucu Adam makanan yang akan menegakkan sulbinya, kalau seandainya mau tidak mau memang harus diisi, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, sepertiga lagi untuk bernafas”.[10]

Berkata salah seorang `ulama salaf : “Ketenangan hati pada sedikitnya dosa, istirahatnya perut pada sedikitnya makanan, istirahatnya lidah ketika sedikit berbicara”.

Saya akan menutup dengan perkataan al Imam Ibnul Qoiyim rahimahullah Ta`ala : “Jangan kamu mengira bahwa firman Allah Ta`ala :

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ # وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka”. (QS. Al-Infithor : 13-14)

-khusus di hari kiamat saja, bahkan mereka di dalam kenikmatan di tiga tempat, dan mereka di dalam jahim (neraka) juga di tiga tempat. Kelezatan dan kenikmatan mana lagi yang lebih baik di dunia ini dari bentuk hati yang baik dan dada yang tentram, mengetahui Rabb Ta`ala dan mencintaiNya, lalu beramal sesuai dengan taufiqNya, tidak ada sebenarnya haqiqat kehidupan kecuali kehidupan hati yang selamat.  Dan sungguh Allah Ta`ala telah memuji khalil-Nya Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam dikarenakan hatinya selamat, maka Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ # إِذْ جَاء رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (lngatlah) ketika ia datang kepada Rabbnya dengan hati yang suci”. (QS. As Shoffaat : 83-84)

Dan Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman menceritakan tantang Nabi Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ # إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari dimana harta dan anak laki-laki tidak bermanfa`at bagi seseorang, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat”. (QS. As Syu`araa : 88-89)

“Al Qalbus Saliim adalah hati yang selamat dari syirik, kebencian, dengki, hasad, bakhil, sombong dan cinta dunia serta cinta kedudukan, selamat dari seluruh kerusakan yang akan menjauhkannya dari Allah Ta`ala, selamat dari seluruh syubhat yang akan menentang laranganNya, dari seluruh syahwat yang akan menentang perintahNya, dan selamat dari seluruh keinginan yang akan bertentangan dengan keinginanNya, dan selamat dari seluruh pemutus yang akan memutuskan dia dari Allah Ta`ala. Inilah yang dikatakan al Qalbus Saliim yang dia di jannah disegerakan di dunia, dan di jannah di dalam barzakh (kubur), lalu di jannah juga di hari kiamat”.[11]

Keempat : Hendaklah seorang hamba merasa hadir bahwa ibadah yang dia tegakkan ini dari bentuk shalat, puasa, haji atau shadaqah, bahwasanya ini merupakan ketaatan kepada Allah semata dan dalam rangka mencari keridhoanNya Subhaana wa Ta`ala, dan sesungguhnya ibadah ini Allah mencintai dan meridhainya, dan ibadah inilah yang akan mendekatkan dia kepada Rabbnya Subhaana wa Ta`ala.

Imam al Bukhariy telah meriwayatkan dalam shohihnya satu hadist dari jalan Abu Hurairah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman : Barang siapa yang memusuhi waliKu, sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya, dan tidaklah hambaKu melakukan pendekatan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus-menerus hambaKu melakukan pendekatan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah (sunnah), hingga pasti Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia menggapai dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya, dan apabila dia meminta kepadaKu maka pasti Aku akan mengabulkannya, dan apabila dia minta perlindungan kepadaKu, maka Aku akan melindunginya, dan tidaklah Aku merasa ragu dari sesuatu yang Aku melakukannya seperti ragunya Aku dari mencabut nyawa seorang mukmin yang dia takut dengan kematian, sementara Aku tidak suka untuk menyakitinya”.[12]

Kelima : Hendaklah seorang hamba merasakan bahwa seluruh ibadah tidak akan hilang dan pupus demikian saja, sebagaimana binasanya perbendaharaan dunia dan harta-hartanya. Demikian juga kedudukannya serta kelezatannya, bahkan seorang hamba merasakan bahwa dia sangat berhajat kepada ibadah tersebut, dan bahkan dia sungguh akan mendapatkan buahnya di dunia bersama dengan yang disimpan baginya di akhirat dari apa apa yang lebih agung dan besar. Maka barang siapa merasakan demikian dia tidak  peduli dengan apa-apa yang luput baginya dari dunia, dan dia akan gembira dengan ibadah-ibadah ini serta akan mendapatkan kenikmatan dan kelezatannya. Allah Ta`ala berfirman :

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْماً وَلَا هَضْماً

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya”. (QS. Thohaa : 112)

Dan Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shohihnya satu hadist dari jalan al `Abbaas bin `Abdul Mutholib radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Telah merasakan kenikmatan iman siapapun yang ridha Allah Tabaaraka wa Ta`ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai Din (agama)nya serta Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam sebagai Nabinya”.[13]

Dan di dalam shohih al Bukhari dan Muslim satu hadist dari jalan Abu Hurairah radhiallahu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barang siapa yang menginfakkan dua pasang di jalan Allah Ta`ala, dipanggil dia dari pintu-pintu surga, wahai `Abdullah, ini adalah baik, maka barang siapa yang dia banyak mengerjakan shalat dipanggil dia dari pintu shalat, dan barang siapa yang banyak berjihad dipanggil dia dari pintu jihad, dan barang siapa yang banyak melakukan puasa dipanggil dia dari pintu ar Royyan, dan barang siapa yang banyak bershadaqah dipanggil dari pintu shadaqah”.[14]

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Diterjemahkan oleh : al Faqiir Ila `Afwi Rabbihi al Ustadz Abul Mundzir/ Dzul Akmal  ar Riyawwiy al Madaniy as Salafiy dari kitab: “Ad Durarul Muntaqootu minal Kalimaatil Mulqooti Duruusun Yaumiyah”, halaman 349-354, oleh as Syaikh Amin as Syaqaawiy.

Rimbo Panjang, Kompleks Ma`had Ta`zhiim as Sunnah as Salafiyah, hari Kamis 21 Muharram 1431 H/7 Januari 2010 M.


[1] “al Waabilus Shoiyib minal Kalimit Thoiyib”, halaman 81.

[2] “al Waabilus Shoiyib minal Kalimit Thoiyib”, halaman 82.

[3] “Shohih al Bukhariy”, (6941), “shohih Muslim”, (43).

[4] “Shohih Muslim”, (43).

[5] Potongan hadist di sunan at Tirmidziy (1621).

[6] Nukilan dari kitab : “Ladzzatul `Ibaadah”, halaman 12.

[7] “ad Daau wad Dawaa`”, halaman 104, oleh al Imam Ibnul Qaiyim.

[8] “Tahdziibu Madaarijus Saalikin”, halaman 312.

[9] “Laddzatul `Ibadah”, halaman 18.

[10] “Sunan at Tirmidziy” (2380) berkata al Imam at Tirmidziy : hadist hasan shohih.

[11] Lihat : “ad Daau wad Dawaa`” halaman 165-166, oleh al Imam Ibnul Qaiyim.

[12] “Shohih al Bukhariy (6502).

[13] “Shohih Muslim (34)”.

[14] “Shohih al Bukhariy (1897), shohih Muslim (1027).

Sumber: http://tazhimussunnah.com

About aburumaisho

hamba Alloh

Posted on July 27, 2010, in Aqidah, Fiqih and tagged , . Bookmark the permalink. Comments Off on Kelezatan Ibadah.

Comments are closed.

%d bloggers like this: