Mengenal Ahlussunnah wa Al-Jamaah


Oleh: Ustadz Abu Muawiyah Al Atsary

Sebelum terjadinya fitnah dengan munculnya berbagai macam bid’ah, perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat islam tidak dikenal kecuali dengan satu nama yaitu Islam. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah dan perpecahan, muncullah golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan memprogandakan bid’ah dan kesesatannya dengan nama Islam. Hal ini tentunya menimbulkan kebingungan di tengah-tengah ummat, manakah ajaran Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang sebenarnya, yang belum bercampur dengan berbagai bentuk kesesatan, karena semua kelompok dengan beraneka ragam ajaran mereka yang berbeda, semuanya mengaku bahwa merekalah yang berada di atas ajaran Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang murni.
Hanya saja Allah Yang Maha Hikmah lagi Bijaksana telah menetapkan suatu keputusan dengan dalam firmannya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr : 9)


Ayat ini menunjukkan keharusan ajaran Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam pertama kali tidak akan lenyap dan tidak akan tertutupi oleh kebatilan. Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada para ulama salaf ketika itu, sehingga mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syariat yang terambil dari agama Islam sendiri, berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa membedakan antara pengikut kebenaran dengan golongan-golongan sesat  tersebut.
Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Dulunya mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah, mereka pun mulai bertanya, “Sebutkan kepada kami rawi-rawi kalian!”, lalu dilihat kepada Ahlus Sunnah maka diambil haditsnya dan dilihat kepada ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya (1)”. (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Maka berikut ini kami akan mencoba menguraikan secara rinci penamaan yang Ibnu Sirin sebutkan di atas, yaitu nama Ahlussunnah atau selengkapnya: Ahlussunnah wa al-jama’ah. Dengan harapan semoga kaum muslimin bisa mengetahui siapa sebenarnya yang pantas dijadikan rujukan dalam beragama, wallahul muwaffiq.

Definisi Ahlussunnah wa al-jama’ah.
Ini adalah salah satu penamaan lain dari salaf yang maknanya sama persis dengan makna salaf yang telah kita uraikan di atas, berikut uraiannya :
1.    Secara bahasa :
Sunnah adalah jalan baik maupun jelek, lurus maupun sesat, sebagaimana dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam beliau bersabda :
“Barangsiapa yang membuat dalam Islam sunnah yang baik … dan barangsiapa yang membuat dalam Islam sunnah yang jelek …”. (HR. Muslim)
Adapun jama’ah secara bahasa bermakna menyatukan sesuatu yang terpecah, maka jama’ah adalah lawan kata dari perpecahan.
{Lihat : Lisanul ‘Arab (17/89) dan Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah (1/29-33)}

2.    Secara Istilah :
Sunnah yang diinginkan dalam penamaan ini adalah sunnah dalam artian umum yaitu Islam itu sendiri secara sempurna yang meliputi ‘aqidah, hukum, ibadah dan seluruh bagian syariat. Makna inilah yang ditunjukkan oleh kebanyakan hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, di antaranya :
1.    Hadits Anas bin Malik secara marfu’:
“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golonganku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2.    Hadits ‘Irbadh bin Sariyah secara marfu’:
“Saya berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemerintah) walaupun (pemerintah tersebut) seorang budak Habasyi, karena sesungguhnya barangsiapa yang tetap hidup di antara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak,maka wajib atas kalian (untuk mengikuti) sunnahku dan sunnah para khulafa` yang mendapatkan hidayah dan petunjuk, berpegang teguhlah kalian dengannya serta gigitlah ia dengan gigi geraham kalian”. (HR. Imam Empat kecuali An-Nasai)
3.    Hadits Abu Hurairah secara marfu’:
”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya telah tinggalkan untuk kaliansuatu perkara yang kalau kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selamanya ; yaitu kitab Allah dan Sunnahku”. (HR. Al-Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany)

Dan makna ini pula yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya :
Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata di awal kitab beliau Syarhus Sunnah : “Ketahuilah sesungguhnya Islam itu adalah sunnah dan sunnah adalah islam dan tidaklah tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya”.
Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa (4/180) menukil dari Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Malik Al-Karkhy bahwa beliau berkata, “Ketahuilah bahwa sunnah adalah jalan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam serta mengupayakan untuk menempuh jalannya dan ia (sunnah) ada 3 bagian: Perkataan, perbuatan dan akidah”.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sunnah adalah suatu jalan yang ditempuh dan jalan itu mencakup berpegang teguh terhadap apa-apa yang beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya dan para khalifahnya yang mendapat petunjuk berupa keyakinan, amalan dan perkataan. Inilah makna sunnah yang sempurna, karena itulah para ulama salaf terdahulu tidak menggunakan kalimat sunnah kecuali apa-apa yang meliputi seluruh hal itu. Hal ini diriwayatkan dari Al-Hasan, Al-Auza’i dan Fudhail bin ‘Iyadh”. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam hal 249
Dari penjelasan makna sunnah secara umum di atas akan memberikan gambaran yang jelas kepada kita tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah (pengikut sunnah) itu. Berikut beberapa perkataan para ulama dalam memberikan definisi Ahlus Sunnah :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (3/375) berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an  dan sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan apa-apa yang disepakati oleh orang-orang terdahulu lagi pertama dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam Al-Fishal (2/281), “… dan Ahlus Sunnah yang telah kami sebutkan adalah ahlul haq (pengikut kebenaran) dan selain mereka adalah ahlul bid’ah, maka ahlus sunnah mereka itulah para shahabat radhiallahu ‘anhum dan siapa saja yang menempuh jalan mereka dari orang-orang pilihan dari kalangan tabi’in kemudian ashhabul hadits (pakar hadits) dan siapa saja yang mengikuti mereka dari para ahli fiqh dari zaman ke zaman sampai hari kita ini dan orang-orang yang mengikuti mereka dari orang awwam di Timur maupun di Barat bumi rahmatullah ’alaihim“.
Dan Ibnul Jauzy  berkata dalam Talbis Iblis hal. 21, “Tidak ada keraguan bahwa pakar riwayat dan hadits yang mengikuti jejak Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan jejak para sahabatnya mereka itulah Ahlu Sunnah karena mereka di atas jalan yang belum terjadi perkara baru (bd’ah) padanya, karena perkara baru dan bid’ah hanyalah terjadi setelah (zaman) Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan para sahabatnya”.

Adapun Al-Jama’ah secara istilah, maka para ulama berbeda menjadi enam penafsiran tentang makna jama’ah yang tersebut di dalam hadits-hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, semisal:
1.    Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok),  72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)
Dalam suatu riwayat, “(Al-Jama’ah adalah) siapa yang berada di atas seperti apa yang saya dan para shahabatku berada di atsnya”. (Hadits hasan dari seluruh jalan-jalannya)
2.    Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
“Tidak halal (menumpahkan) darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa saya adalah Rasululullah kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Orang yang telah berkeluarga yang berzina, jiwa dengan jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3.    Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
“… Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah walaupun sejengkal lalu dia mati kecuali dia mati di atas bentuk matinya jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (kepada pemerintah) dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah …”. (dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Hanya saja yang perlu diketahui bahwa keenam penafsiran yang disebutkan oleh para ulama tidak ada yang saling bertentangan dan saling menafikan, bahkan semuanya menunjukkan makna Al-Jama’ah yang syar’i dalam Islam. Secara umum keenam penafsiran ini bisa dikembalikan kepada dua penafsiran sebagaimana yang diisyaratkan oleh imam Al-Khoththobi rahimahullah, yaitu :
1.    Jama’atul Adyan (Jama’ah dalam agama) yaitu pengikut kebenaran dari kalangan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para ulama dan selainnya, walaupun dia hanya seorang diri. Ini adalah penafsiran Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Imam Al-Barbary, Ibnu Katsir, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan lain-lainnya rahimahumullah.
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”.
2.    Jama’atul Abdan (Jama’ah badan) yaitu jama’ah kaum muslimin jika mereka bersepakat berkumpul di bawah satu pimpinan (Negara yang syah), dan ini adalah penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Atsir rahimahumallah.
Inilah dua makna Al-Jama’ah yang tsabit dan benar dalam syari’at Islam, tidak ada makna ketiga. Lihat kitab Al-‘Uzlah karya Al-Khoththoby rahimahullah.

Dari sini kita bisa mengetahui jelasnya kebatilan pembentukan jama’ah-jama’ah baru dalam Islam, karena kalau yang mereka inginkan dengan makna jama’ah adalah makna yang pertama maka pemimpinnya dan yang wajib ditaati dan dilaksanakan perintahnya hanya satu yaitu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak ada orang kedua, dan jika mereka menginginkan dengannya makna yang kedua maka pemimpin yang wajib didengar dan ditaati serta yang berhak diberikan bai’at kepadanya juga hanyalah satu orang yaitu pemimpin Negara dalam hal ini di Indonesia adalah seorang Presiden, bukan ‘imam-imam’ yang dibentuk oleh masing-masing jama’ah, karena perbuatan ini justru merupakan pemecahbelahan ummat dan merupakan suatu bentuk perbuatan khuruj (kudeta) kepada pemerintah yang syah.

Sebagai kesimpulan maka kita katakan: Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah suatu penamaan ataupun sifat yang dimiliki oleh setiap orang yang mengikuti dengan baik jalannya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan para shahabat beliau dari kalangan para ulama sampai orang-orang awwamnya ummat ini, dia bukan suatu nama organisasi atau kelompok atau jama’ah buatan orang-orang belakangan akan tetapi Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah penamaan lain dari Islam itu sendiri yang murni dari berbagai bentuk bid’ah dan penyimpangan.  Maka siapapun orangnya, di belahan bumi manapun dia berada dan apapun warna kulitnya semuanya bisa bernama dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang dia komitmen dengan Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam sesuai dengan pemahaman para shahabat walaupun dia hanya seorang diri tanpa ada orang yang mengikutinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

{Lihat : Mauqif  Ahlus Sunnah wal Jama’ah (1/29-37 dan 47-54), Al-I’tishom (2/767-776) dan Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asy’ariyah (1/26-32)}.

_______________
(1)   Maksudnya : Sebelum terjadinya fitnah dengan terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan, bila ada yang membawakan hadits dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam maka langsung diterima tanpa mempertanyakan asal pengambilannya. Akan tapi setelah terjadinya fitnah, kaum musliminpun sadar bahwa di antara mereka ada orang-orang yang menghendaki kerusakan Islam,  sehingga ketika ada yang membawakan hadits dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mereka mulai bertanya dari mana dia mendengar hadits itu. Bila nama yang dia sebutkan adalah ahlus sunnah maka baru diterima haditsnya dan demikian pula sebaliknya.

Sumber: http://www.al-atsariyyah.com

About aburumaisho

hamba Alloh

Posted on July 7, 2010, in Manhaj and tagged . Bookmark the permalink. Comments Off on Mengenal Ahlussunnah wa Al-Jamaah.

Comments are closed.

%d bloggers like this: