Tauhid & Keutamaannya


Oleh : Ustadz Abu Muawiyah Al Atsary

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- berkata, “Yakni agar mereka bertauhid kepada-Ku.”

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Dari Jabir bin Abdillah -radhiallahu anhu- dia berkata:

“Barangsiapa yang menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak berbuat kesyirikan kepada Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti akan masuk surga, dan barangsiapa yang menemui Allah dalam keadaan berbuat kesyirikan kepada-Nya dengan sesuatu apapun maka dia pasti akan masuk neraka.” (HR. Muslim no. 93)

Dari Muadz bin Jabal -radhiallahu anhu- dia berkata:

“Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan, tidak ada pemisah antara aku dan beliau kecuali pelana hewan kendaraan. Beliau memanggil, “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Kami meneruskan lagi perjalanan. Kemudian beliau memanggil lagi, “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Kami meneruskan lagi perjalanan kemudian beliau memanggil lagi: “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut lagi, ” Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Tahukah kamu apa Kewajiban manusia terhadap Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.” Kami meneruskan lagi perjalanan beberapa waktu ketika kemudian beliau memanggil lagi, “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu apakah kewajiban Allah terhadap manusia apabila mereka melakukan perkara-perkara yang aku nyatakan tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Akhirnya beliau bersabda, “Allah tidak akan menyiksa mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2644, 5796, 6825 dan Muslim no. 30)

Dalam riwayat lain:

“Saya lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menceritakannya kepada orang-orang?” Beliau menjawab, “Jangan kamu memberitahukannya kepada mereka sehingga mereka akan bersandar kepadanya.”

Yakni: Mereka akan malas dan tidak berlomba-lomba beramal saleh karena mereka hanya bersabdar pada keutamaan tauhid yang mereka sudah miliki.

Penjelasan ringkas:

Tauhid adalah ketaatan yang terbesar, bahkan dia merupakan landasan baiknya semua ketaatan. Karena ketaatan yang dikerjakan tanpa landasan tauhid adalah ketaatan yang semu dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam rububiah-Nya, uluhiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Hanya saja sebagian ulama ada yang menafsirkan tauhid itu adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah (tauhid uluhiah), karena di antara tiga jenis tauhid di atas, yang terpenting adalah tauhid uluhiah mengingat seseorang masuk Islam hanya dengan mewujudkan tauhid uluhiah. Dan secara umum, cara mewujudkan tauhid uluhiah adalah menyembah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan meninggalkan serta mengingkari semua entuk taghut, yaitu semua yang disembah selain Allah dalam keadaan dia ridha disembah.

Tauhid mempunyai banyak keutamaan di antaranya:

  1. Jin dan manusia diciptakan untuk mentahqiq (mewujudkannya), serta semua langit dan bumi serta isinya diciptakan sebagai pendukung bagi jin dan manusia untuk mengemban kewajiban mereka.
  2. Dia merupakan tugas semua rasul dari Nuh -alaihishshalatu wassalam- sampai Muhammad -alaihishshalatu wassalam-. Sehingga dia merupakan kewajiban yang diturunkan kepada setiap ummat dan merupakan salah satu ajaran yang disepakati oleh semua agama samawiah.
  3. Dia merupakan syarat mutlak dan syarat paling minimal untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari kekelan api neraka. Artinya orang yang bertauhid pasti akan masuk surga walaupun mungkin dia masuk meraka terlebih dahulu karena dosa-dosanya, tapi yang jelas dia tidak akan kekal di dalamnya dan akan keluar pada akhirnya karena tauhid yang dia miliki.
  4. Dia merupakan kewajiban yang paling wajib, jauh melebihi wajibnya shalat, puasa, zakat, dan haji. Karena betapa meruginya orang-orang yang shalat atau puasa atau zakat atau haji akan tetapi tauhidnya belum benar.
  5. Tauhid yang sempurna bisa menghapuskan semua kesalahan, sebagaimana yang masyhur dalam hadits al-bithaqah. Dimana ada seseorang yang punya 99 lembaran dosa dan mempunyai satu bithaqah (kartu kecil) yang bertuliskan: Laa Ilaha Illalloh, maka tatkala ditimbang pada hari kiamat ternyata kartu kecil ini lebih berat sehingga semua dosanya diampuni dan dia masuk surga.
  6. Dengan menyempurnakan tauhid -bukan sekedar bertauhid- maka dia akan selamat dari semua siksaan Allah Ta’ala berdasarkan hadits Muadz di atas.

Dan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang disertai dengan amalan-amalan saleh baik yang wajib maupun yang sunnah. Karenanya jangan sampai ada yang mengira bahwa sekedar tidak berbuat syirik itu sudah cukup untuk memasukkan dia ke dalam surga, walaupun dia tidak mengerjakan kewajiban yang Allah bebankan, sungguh ini adalah pemahaman yang keliru.

Beberapa pelajaran dari hadits Jabir dan Muadz di atas:

  1. Taubat masih terbuka bagi pelaku dosa selama dia belum berjumpa dengan Allah (meninggal). Walaupun dosa yang dia amalkan adalah kesyirikan maka Allah tetap akan mengampuninya selama dia bertaubat sebelum meninggal.
  2. Didatangkannya kata kerja ‘masuk’ surga dan neraka dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja lampau): ??? padahal ini belum terjadi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa orang mati dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga dan yang mati di atas kesyirikan maka pasti akan masuk surga.
  3. Bolehnya menggunakan tunggangan atau kendaraan untuk berboncengan selama tidak memberatkan tunggangannya.
  4. Tawadhu` Nabi -alaihishshalatu wassalam- tatkala beliau sebagai nabi dan pemimpin mau berboncengan dengan rakyat beliau.
  5. Menjawab dengan:Labbaika wa sa’daikaketika dipanggil.
  6. Hikmah Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengulangi panggilan kepada Muadz sebanyak tiga kali agar ilmu yang akan beliau sampaikan cepat dihafal dan dipahami oleh Muadz dan agar dia selalu menghafalnya. Tatkala Nabi mengulangi panggilan maka tentunya hati Muadz sudah bertanya-tanya dan sudah siap mendengarkan dengan baik, mengingat tidak biasanya Nabi -alaihishshalatu wassalam- seperti itu, maka tentunya apa yang akan beliau sampaikan adalah perkara yang sangat penting.
  7. Bolehnya seorang alim bertanya atau mengadakan ikhtibar (ujian) kepada muridnya guna mengetahui sampai dimana kadar keilmuan mereka.
  8. Bolehnya seorang alim menguji keilmuan muridnya dengan melontarkan sebuah syubhat agar muridnya menjawabnya, tapi dengan syarat jika muridnya tidak bisa menjawab dengan benar maka dia harus memberikan jawaban dari syubhat tersebut sebelum majelisnya berakhir.
  9. Adab dalam menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya, yaitu mengatakan: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Hanya saja ini sebelum Nabi wafat, adapun setelah beliau wafat maka cukup dikatakan: Allah yang lebih mengetahui. Hal itu karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak mengetahui perkara dunia setelah beliau wafat.
  10. Bolehnya seorang guru mengkhususkan ilmu tertentu yang pada sebagian muridnya dan tidak kepada yang lainnya. Dengan pertimbangan bahwa ilmu tersebut hanya bisa dipahami oleh murid tertentu dan tidak bisa dipahami oleh seluruhnya. Ini berbeda jauh dengan pengkhususan sebagian orang dalam menerima taklim tertentu yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terfitnah dengan hizbiah. Dimana yang menjadi tolak ukur dan pertimbangan mereka adalah siapa yang paling setia dan loyal kepada jamaah/yayasan, yakni yang boleh mengikuti taklim tertentu tersebut hanyalah semua orang yang sudah terbukti kesetiaannya kepada yayasan, sementara yang belum terbukti kesetiaannya tidak boleh mengikutinya walaupun dia lebih alim daripada para petinggi yayasan tersebut. Inilah di antara bentuk sirriyah tanzhim (pengaturan terselubung)
  11. Bolehnya mengundurkan penyampaian ilmu yang bermanfaat atau menyembunyikannya sementara waktu, jika ada maslahat dalam mengundurkannya atau akan timbul mudharat jika ilmu itu disampaikan saat itu. Intinya tidak semua kebenaran harus disampaikan secepatnya akan tetapi likulli maqamin maqal (ucapan yang diucapkan harus sesuai dengan situasi saat itu), dan ini termasuk hikmah dalam berdakwah. Betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh seorang dai hanya karena tidak mempunyai hikmah dalam berdakwah, khususnya ketika dia ingin menyampaikan suatu kebenaran kepada masyarakat yang sudah turun-temurun meninggalkan kebenaran tersebut.

Hanya ini yang bisa kami dapatkan, bagi yang mendapatkan faidah lain dari kedua hadits di atas silakan menambahkan di kolom komentar. Jazakumullahu khairan.

Sumber : http://www.al-atsariyyah.com

About aburumaisho

hamba Alloh

Posted on July 5, 2010, in Aqidah and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Bismillah..
    Alhmadulillah akhirnya bisa jalan juga domain ini…

    • Alhamdulillah..
      ini juga masih belum selesai. insya Alloh akan lebih dilengkapi
      jazakallohu khoiron. ya akhi.

%d bloggers like this: