Syarat Takfir (Pengkafiran) dan Penghalangnya


Seorang pelaku kekafiran dibedakan antara perbuatan dan pelaku. [Sebagaimana] Ada orang yang berbuat kesyirikan; perbuatannya dihukumi sebagai kesyirikan, kekufuran; sedangkan pelakunya belum tentu dihukumi kafir.

Untuk menghukumi kafir harus terpenuhi 4 syarat dan sebaliknya harus hilang darinya 4 perkara. Kalau tetap ada 4 perkara ini padanya, maka tidak boleh dikafirkan.

è Syarat pertama, al ‘ilmu, ia harus mengetahui.

<< Lawannya: jahil.

Maksudnya ketika ia melakukan suatu perbuatan kekufuran, ia tahu bahwa itu adalah kekufuran. Kalau ia jahil, tidak dikafirkan.

Contoh: Ada orang yang mau meninggal berwasiat kepada anak-anaknya, “Kalau saya sudah meninggal, maka bakarlah saya dan tebarkanlah debuku di lautan. Sesungguhnya kalau Allah Kuasa menghidupkan diriku maka Dia akan mengadzabku dengan suatu azab yang tidak diberikannya kepada seorang pun penduduk alam semesta.”

Orang ini keyakinannya kufur dan ragu tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan debunya dan menanyakan perbuatannya, ia berkata, “Wahai Rabb, sesungguhnya saya takut kepada-Mu.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengampuninya. [Hadits shahih, riwayat Al Bukhâri no. 3294 dan Muslim no. 2757 dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu]

è Syarat kedua, ia memaksudkan untuk berucap atau berbuat kekufuran itu.

<< Lawannya: tanpa sengaja, karena kesalahan saja.

Contoh: Orang yang menemukan untanya yang hilang di tengah padang pasir, saking gembiranya ia berucap, “Ya Allah Engkaulah hambaku, dan aku Rabb-mu.” Maka orang ini tidak dikafirkan karena ia tidak sengaja berucap seperti itu. Ia hendak mengatakan, “Ya Allah, Engkaulah Rabb-ku, dan aku hamba-Mu.” [Hadits shahih, riwayat Al Bukhâri no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu]

è Syarat ketiga, al ikhtiar, karena kehendak sendiri, pilihan sendiri.

<< Lawannya: terpaksa.

Jadi kalau dia melakukan kekafiran tersebut karena keinginan sendiri, pilihannya sendiri untuk melakukan itu, hukumnya dikafirkan. Berbeda dengan orang yang terpaksa. Kalau terpaksa, di luar kemampuannya.

Karena itu, ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu tidak dikafirkan padahal beliau mencerca Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita ketahui bersama dalam sejarah bagaimana kisah ‘Ammar bin Yasir. Ayah beliau (Yasir bin ‘Amir bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu) dan ibu beliau (Sumayyah bintu Khayyath radhiyallahu ‘anha) sudah meninggal karena disiksa. Maka ‘Ammar bin Yasir kalau tidak mengikuti perintah kaum musyrikin yang menyiksanya, juga akan mati menyusul ayah dan ibunya. Akhirnya ‘Ammar bin Yasir karena terpaksa, mengucapkan kalimat kekufuran, mencerca Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi hatinya tetap tenang dengan keimanan.

Inilah yang diperkecualikan dalam Al Qur’ân:

مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ

“Orang yang kafir kepada Allah setelah keimanannya, kecuali orang yang dipaksa dan hatinya tetap tenang dengan keimanan.” (QS An Nahl: 106)

Kalau ia terpaksa dan hatinya tenang dengan keimanan, ini tidak dikafirkan. Tapi kalau ia melakukan perbuatan itu kehendak sendiri, maka dihukumi kafir.

è Syarat keempat, ta’wil yang tidak diperbolehkan.

<< Lawannya: ta’wil yang diperbolehkan.

Ta’wil itu kalau kita bahasakan dalam bahasa Indonesia mungkin bisa dimaknakan alasan.

Contohnya seperti Qudâmah bin Magh’un radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang menghalalkan minum khamr, minuman keras. Sedangkan meyakini halalnya minum minuman keras hukumnya adalah kufur, termasuk kufur istihlal atau kufur at takdzib, pendustaan. Ia menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tetapi Qudâmah yang melakukannya di masa pemerintahan ‘Umar bin Khaththâb radhiyallahu ‘anhu tidak dikafirkan oleh para sahabat waktu itu. Sebab ia mempunyai alasan mengatakan halal yaitu karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’ân:

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُواْ إِذَا مَا اتَّقَوا وَّآمَنُواْ

Tidak apa-apa bagi orang yang beriman dan beramal shâlih pada apa-apa yang mereka makan dan minum kalau mereka tetap bertaqwa dan beriman.” (QS Al Ma’idah: 93)

Dari ayat ini ia katakan, minum khamr tidak apa-apa kalau kita tetap beriman dan bertaqwa. Andaikata tidak ada ta’wil-nya menghalalkan, akan dihukumi kafir oleh para sahabat. Tapi karena ia mempunyai alasan yang mungkin diterima, maka ia pun tidak dikafirkan.

Contoh lainnya, Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu membunuh orang yang sudah berucap La ilaha illallah. Ia dalam peperangan, kemudian ketika sudah terdesak musuh yang berada di depannya, tiba-tiba musuh ini berkata “La ilaha illallah”. Usamah tetap menebas lehernya, mati orang tersebut. Usamah berkata, “Orang ini mengucapkan La ilaha illallah karena takut dari pedangku saja.” Di sini Usamah menghalalkan darahnya. Sedangkan hukum menghalalkan darah seorang muslim adalah kufur kalau ia meyakini halalnya. Tapi Usamah mendapatkan udzur karena ia mempunyai ta’wil, alasannya “Karena orang ini takut saja dari pedangku.” [Hadits shahih, riwayat Al Bukhâri no. 4269 dan Muslim no. 96]

Andaikata tidak ada ta’wil-nya, maka ia dihukumi sebagai orang yang kafir karena menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi sekali lagi di sini, menghukumi seseorang itu kafir harus terpenuhi 4 syarat, kebalikannya harus hilang 4 penghalang. Tidak boleh terkumpul 2 perkara ini, kalau ada penghalangnya, tidak boleh dikafirkan.

[Sampai di sini transkrip pelajaran Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhahullah pada masalah syarat takfir dan penghalangnya. Materi ditranskrip dengan editing redaksi oleh Muhammad Syarif Abu Yahya dari CD-09 Tasjilat Al Atsariyyah]

Seluruh hal ini karena pengkafiran itu adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala. Siapa yang salah dalam menjatuhkannya, maka ia akan kembali kepadanya. Sebagaimana Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ لأَخِيْهِ يَا كَافِرُ إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ حَارَتْ عَلَيْهِ

Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’ kalau memang demikian, (tidak apa-apa) dan kalau tidak, maka kalimat itu akan kembali kepadanya.” [Hadits shahih, riwayat Al Bukhâri no. 5753 dan Muslim no. 60]

[Khusus alenia ini dikutip dari majalah An Nashihah volume 09 tahun 1426 H/2005 hlm. 24]

About aburumaisho

hamba Alloh

Posted on February 11, 2010, in Aqidah. Bookmark the permalink. Comments Off on Syarat Takfir (Pengkafiran) dan Penghalangnya.

Comments are closed.

%d bloggers like this: