Amanah Menjaga Iffah


Oleh: Syaikh Salim al ‘Ajmiy hafizhohullaahu ta’aalaa.

Setiap perempuan haruslah mengetahui bahwa ketika dirinya keluar dari rumah keluarganya atau rumah suaminya, sesungguhnya ia keluar membawa kehormatan diri dan keluarganya. Oleh karena itu dia tidak boleh lalai menjaga karunia berharga ini hanya demi hasrat syaitoniy, dan juga ia tidak boleh melakukan suatu perbuatan yang akan mencoreng kehormatan tersebut.

Hakekat ini disadari oleh banyak perempuan, akan tetapi sebagian perempuan pura-pura lupa atau pura-pura tidak tahu tentang hakekat ini. Sehingga setiap kali ada berandal yang mengajak pada keburukan, mereka langsung memenuhinya, dan mereka lupa bahwa di jalan seperti ini pasti akan ada korban. Dan korban itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Dia akan dijanjikan untuk dinikahi, namun janji itu tidak lain adalah alat untuk mengulur keluguannya dan agar si berandal ini dapat mencapai apa yang menjadi keinginannya. Maka kalau ia sudah mendapatkan keinginannya, ia akan membuang perempuan itu dalam keadaan kehormatannya telah tercemar. Ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena permen karet itu dikunyah sampai kalau sudah tidak manis lagi, dibuang ke tempat sampah.

Salah seorang korban berkata:
Masalahku adalah aku berkenalan dengan seorang pemuda. Dan tumbuhlah di antara kami kisah cinta!! Kami bersepakat untuk menikah, akan tetapi dia berkata padaku bahwa dia ingin memperkenalkanku pada ibunya sebelum menikah. Maka aku tidak keberatan. Kemudian kami menyetujui waktu tertentu untuk aku pergi bersamanya. Dan karena keluguan dan kebodohanku, aku pergi bersamanya ke rumahnya. Ketika kami sampai dan aku memasuki rumah, tidak ada seorangpun di sana. Dia menenangkanku dengan menjelaskan bahwa ibunya keluar dan akan kembali beberapa saat lagi. Kami pun mulai berbincang-bincang dan ia mulai menggodaku dan menjelaskan padaku betapa besar rasa cintanya. Dan ia pun membuatku terlena sampai terjadilah apa yang terjadi!! Lalu aku menyadari bahwa ia telah membuat rencana dengan teman-temannya agar mereka datang ke rumah. Setelah apa yang diinginkannya terwujud, ia meninggalkanku di kamar dalam keadaan tidak karuan. Lalu ia mendatangkan salah seorang kawannya. Aku semakin terkejut ketika aku melihat kawannya itu adalah orang yang aku kenal sebagai teman kakakku yang paling tua!! Karena kami saling mengenal, ia membawaku pulang ke rumah. Setelah hari itu, aku bertaubat kepada Allah, setelah hidupku menjadi sebuah neraka. Dan aku memutuskan untuk memulai hidup yang bersih dan terhormat. Akan tetapi yang meresahkanku dan menambah penderitaanku adalah bahwa kawan kakakku itu selalu mengancamku untuk membongkar rahasiaku di depan keluargaku kalau aku tidak bersedia memenuhi permintaan kotornya.”

Sungguh telah benar Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam ketika bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berkholwat dengan seorang perempuan, melainkan ada pihak ketiga yang menyertai mereka, yaitu syaitan (H.R. At Tirmidziy dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Hendaknya setiap pemudi mengambil ibroh dari kisah ini. Maka barangsiapa yang menghendaki ke-iffah-an ia mesti mendatangi suatu rumah dari pintunya  dan tidak memanjat dindingnya (sesuai dengan cara yang seharusnya -pent). Dan seorang pemudi yang menjaga kehormatannya mesti waspada terhadap tipuan-tipuan seperti ini. Dan jangan sampai ia disimpangkan oleh syaitan kemudian ia menuruti taktik-taktik para pemuda berandal. Karena orang yang jauh dari ketaatan kepada Allah, tidak dapat dijamin dia tidak akan mengakibatkan kemudorotan. Dan orang yang tidak punya agama, berarti dia tidak memiliki sifat amanah.

(Diterjemahkan redaksi AKHWAT.WEB.ID dari kitab “dhohiyyatu mu’aakasah”)

About aburumaisho

hamba Alloh

Posted on December 15, 2009, in Fatwa-fatwa and tagged . Bookmark the permalink. Comments Off on Amanah Menjaga Iffah.

Comments are closed.

%d bloggers like this: